Kamis, 13 Februari 2014

neng nyaah ka bapa, neng sono pa ...

tahun 2013 adalah tahun terberat untukku, bagaimana tidak? aku kehilangan orang yang paling aku sayang, teman yang selalu mengerti kesedihan dan kebahagiaanku, orang tua yang selalu mensupport aku saat aku benar-benar buntu untuk berusaha dan hanya terpikir untuk menyerah, seorang pemimpin yang tak pernah lupa akan tugasnya, seorang pasien yang tak pernah marah saat aku mengeluh dan berkata dengan nada tinggi saat merawatnya, dan selalu memijat kepalaku saat aku merasa pusing dan lelah.

ayah, yang selalu ada dalam pikiran dan hati. takkan pernah lekang oleh waktu pa, nadiku berayun dengan kenanganmu.

inget banget, bagaimana ketika beliau mengajariku tentang kedisiplinan. harus bisa mengikat sepatu sendiri saat hari pertama sekolah, dan beliau mengajariku dengan sabar dan telaten, mengajariku cara memasak nasi, sayur, mie bahkan nasi goreng meskipun sekarang aku lupa.
Beliau selalu mengajariku untuk disiplin, contohnya saja, saat sekolah masuk pukul 7.00 pagi maka aku harus bangun pukul 5.00 pagi, mandi, shalat, dan mempersiapkan perlengkapan sekolah seperti seragam, buku ,dll. kemudian pada pukul 6.15 pagi aku harus sudah siap untuk berangkat ke sekolah meskipun disekolah tentu masih sepi dan bahkan kosong, tapi itulah cara bapa mengajariku untuk berdisiplin agar aku tahu betapa berharganya waktu, dan betapa menjengkelkannya saat aku tidak tepat waktu.

Dan saat aku sudah beranjak remaja, beliau akan memberikanku kebebasan untuk memilih sekolah yang ingin aku tempuh, dan saat memasuki SMP aku memilih untuk bersekolah asrama di salah satu pondok pesantren modern di daerah Karawang,dan beliau menyetujui keinginanku. Dan saat disekolah tersebut pula aku mulai merasa prihatin dengan keuangan keluargaku, dan sering sekali beliau tak dapat menjengukku karena beliau tak memiliki uang untuk biaya sekolah dan uang sakuku, dan akhirnya beliau akan mengirimiku sebuah surat yang mengatakan bahwa beliau akan datang minggu berikutnya jika memang beliau telah memiliki rejeki.

dan saat paling mengharukan untukku adalah saat beliau terkena stroek, dimana beliau tak mampu berucap bahkan untuk bergerakpun beliau butuh bantuan kami. aku adalah anak yang paling dekat dengan beliau, kemanapun beliau pergi pasti aku yang mengantarnya atau jika aku tidak ada beliau akan pergi sendiri, entah dengan cara berjalan kaki ataupun menaiki kendaraan umum. saking dekatnya saat aku akan pergi bersama kakak laki-lakiku untuk membeli sesuatu beliau tak mengijinkanku pergi hingga beliau menangis kepadaku agar aku tetap tinggal meski akhirnya aku tetap pergi dan mungkin itu adalah firasat beliau saat beliau pergi menghadap Sang Khalik tidak ada aku disampingnya. 3 hari sebelum kepergiannya keharibaanNya, aku mulai beraktivitas seperti biasa dan sebelum pergi aku berjanji untuk pulang 2 kemudian tapi ternyata aku tak menepati janjiku padanya karena aku pulang keesokan harinya, saat beliau telah kembali ke sisi-Nya. "neng nyaah ka bapa, neng sono pa"

menyesal? ya, mungkin aku menyesal tapi apa daya, semua telah terjadi, semua telah berlalu dan aku pun tak punya kuasa untuk kembali kemasa itu. Rabbku pun akan membenciku jika aku terus menyesalinya. maafin neng ya pa,
ana uhibu abi, uhibu fillah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar